PERBEDAAN WIRAUSAHA DAN WIRASWASTA MEMURUT Dr. H. A. Rusdiana, Drs., M.M.

https://www.shutterstock.com/image-photo/satay-egg-roll-one-indonesian-food-2053939835

 

Sumber Gambar : shutterstock

 Perbedaan wirausaha dan wiraswasta

Sedikit perbedaan persepsi wirausaha dan wiraswasata yang perlu kita ketahui dan kita pahami, Jika yang diharapakan dari pendidikan adalah lebih bermental baja atau lebih memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan adversity (AQ) yang berperan untuk kehidupan (menghadapi tantangan hidup dan kehidupan), demikian ini merupakan wirausaha. Sebaliknya, jika arah dan tujuan pendidikan adalah menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki kecerdasarn ginansial (FQ), yang lebih tepat adalah pendidikan wiraswasta.

Kedua aspek tersebut sama pentingnya wirausaha dan wiraswasta, dalam perkembangannya kalimat tersebut lebih familiar digunakan adalah wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup aspek finansial, personal, sosial, dan rofesional ( Soesarsono, 2002)

Dalam kewirausahaan disepakati tiga jenis perilaku : 

  1. Memulai inisiatif
  2. Mengorganisasi dan mereorganisasai mekanisme sosial/ekonomi untuk mengubah  sumber daya dan situasi dengan cara praktis,
  3. Menerima risiko dan kegagalan  

Menurut para ahli ekonomi

Wirausahawan adalah orang yang mengubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan, dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan orang yang melakukan perubahan, inovasi, serta cara-cara baru.

 

 

 

Sumber :

E-book : Kewirausahaan Teori dan Praktik

Penerbit : Pustaka Setia

Penulis : Dr. H. A. Rusdiana, Drs., M.M.

Tahun : 2014


MACAM-MACAM BENTUK PENELITIAN


 

 

Secara umum penelitian yang kita ketahui dapat dibedakan kedalam dua jenis penelitian, yaitu penelitian menurut sifat masalahnya dan menurut tujuannya.

Penelitian Menurut Sifat Masalahnya ( Dirjen Dikti, 1981)

Ada beberapa penelitian yang tergolong dalam menurut sifat masalahnya

 

A. Pebelitian Historis,

Penelitian ini bertujuan tuntuk membut rekonstruksi masa lampau, secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi, dan mensintesiskan bukti0bukti untuk menegakkan fakta-fakta dan bukti-bukti guna memperoleh kesimpulan yang akurat.

Contoh : 

 Studi tentang Praktek Vawon di Pulau Jawa 

Studi tentang Perkembangan Industri 4.0 di Indonesia

 

B. Penelitian Deskriptif,

Penelitian ini bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, dan sifat-sifat populasi daerah tertentu. Apabila, diambil beberapa samplenya saja, diseebut survey deskriptif.

Contoh :

Survay Pendapatan Umum Tentang Sikap Berhemat Masyarakat

Studi tentang kebutuhan pendidikan keterampilan di Daerah X

Penelitian Tentang Daya Serap Sisa SMA dalam Pelajaran X

 

C. Penelitian Perkembangan (Development Research)

Dalam penelitian perkembangan ini bertujuan untuk menyelidiki pola urutan pertumbuhan atau perubahan sebagai fingsi waktu.

Contoh

Studi Logitudinal Pertumbuhan yang Mengukur Sifat-sifat Pertubahan X

Study Cross-sectional Tentang Sifat-sifat Pertumbuhan X

Study Kecenderungan Tentang Pola-Pola Perubahan

Studi Perkembangan Perilaku Konsumen dalam Membeli suatu Produk X


D. Penelitian Kasus dan Penelitian Lapangan (Case Study and Field Research)

Penelitian ini bertunjuan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial: Individu, kelompok dan masyarakat. 

Dalam penelitian ini mempunyai suatu ciri-ciri yaitu, bersifat mendalam tentang suatu unit sosial tertentu yang hasnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisir.

Contoh :

Studi Kasus yang dilakukan Piaget tentang Perkembangan Kognitif pada Anak-anak

Studi Kasus tentang Pola Konsumsi Masyarakat Kota dan Pola-Pola Kehidupannya.

Studi Lapangan tentang Kelompok Masyarakat Terpencil


E. Penelitian Ekperimen,

Penelitian ekperimen bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan sebab akibat dengan cara mengenakan kepada suatu kondisi perlakuandan membandingkan hasilnya dengan suatu atau lebi kelompok kontrol.

Contoh:

Ekperimen tentang Gejala-Gejala Alam

Ekperimen tentang reaksi kimia X


Bersambung ke artikel Bagian Dua


E-book : Metode Penelitian Model Praktis Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Penulis : Prof. Dr. Suryana, M.Si

Penerbit : Universitas Pendidikan Indonesia

Tahun 2010

MENGHINDARI RAGAM KESALAHAN GURU DALAM BELAJAR-MENGAJAR



Sebagai manusia biasa, pasti guru tidak lepas dari berbagi macam kesalahan dan lupa. Segala sesuatu yang telah diuraikan di buku ini mengenai kesalahan-kesalahan guru yang paling fatal diharapkan dapat menjadi motivasi bagi guru dan calon guru agara tidak melakukan kesalahan yang sama. Semoga dengan mengetahui Ragam Kesalahan guru dalam belajar-mengajar dapat membantu Guru dan kita untuk melakukan intropeksi diri sejak dini dan sebelum orang lain mengoreksi kesalahan kita.

Dengan demikian diharapakan bisa menghindari ragam kesalahan guru dalam belajar-mengajar. Sehingga, segala sesuatu yang diinginkan dari berlangsungnya aktivitas belajar-mengajar dapat tercapai secara maksimal. 

Harapan besar dapat di implementasikan dalam cita-cita pendidikan nasional semakin lebih baik dibandingkan dengan yang sudah-sudah.  Selain itu, orang tua murid dan masyarakat pada umumnya semakin percaya terhadap kinerja para guru (pada khususnya) dan lembaga pendidikan (pada umumnya)


 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

23 TIDAK BISA MENGOPERASIKAN MEDIA PEMBELAJARAN

 


 

 

 

 

Setelah kita mempelajari poin ke dua puluh dua yaitu tidak memperhatikan perbadaan individual

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas tidak bisa mengoperasikan media pembelajaran

 

 Media pembelajaran merupakan suatu alat komponen yang penting dalam pendidikan untuk menunjang efektivitas belajar-mengajar. Media pembelajaran dapat diartikan sebagai metode atau teknik yang menggunakan alat bantu guna memberikan pemahaman kepada murid dalam kegiatan belajar-mengajar.

Secara umum media pembelajaran dibagi menjadi dua. 

Pertama, Metode pembelajaran yang berbentuk inovasi  teknologi yang bersifat mekanik, seperti LCD, OHP, dan vidio.

Kedua, media pembelajaran yang bersifat natural, seperti barang-barang bekas, pepohonan, binatang, dan lain-lain. [sumber dari klubguru.com]. Semua media pembelajaran ini dapat membantu guru dalam menjalankan kegiatan belajar-mengakar.

Manfaat Media Pembelajaran  dalam kegiatan belajar-mengajar adalah sebagai berikut :

 

Mempermudah Penyampaian Materi

Dalam menyampaikan meteri pembelajaran, media dapat meminimalisir perbedaan penafsirkan antara sesuatu yang disampaikan guru dengan pemahaman murid.

Kegiatan Belajar Mengajar  Lebih Menarik dan Jelas

Media pembelajaran dapat menghilangkan kebosanan dalam belajar.

Komunikasi Lebih Interaktif

Dengan media pembelajaran, guru dapat membangun komunikasi lebih interaktid dengan murid.

Efisinesi Waktu dan Tenaga

Media pembelajaran dapat mengurangi kerja keras guru dari segi waktu dan tenaga untuk membuat murid paham terhadap sesuatu yang dijelaskan.

Meningkatkan Kualitas dan Prestasi Belajar

Kegiatan belajar-mengajar yang menggunakan media, secara tidak langsung, kualitas dan prestasi belajar murid akan semakin meningkat. Sebab, dengan media pembelajaran, murid tidak hanya aktif dalam mendengarkan , namun juga aktif melihat, menyentuh, merasakan, serta mengalami sendiri.

Merangasang Murid agar Belajar Kapan pun dan di Mana pun

Dengan contoh yang diekplorasi melalui media pembelajaran, hal ini akan membuat murid terangsang untuk belajar kapan pun dan dimana pun.

Semakin Tertarik untuk Belajar

Media pembelajaran dapat mendorong murid untuk terus belajar karena dalam jiwanya tumbuh cinta terhadap ilmu pengetahuan

Guru Lebih Produktif

Guru yang menggunakan media pembelajaran akan lebih produktif dalam mengajar ketimbang guru yang tidak menggunakan media.

 

Ada beberapa alasan yang membuat guru tidak menggunakan media pembelajaran. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Media Pembelajaran Membuat lebih Repot
  2. Media pembelajaran sebagai Sesuatu yang Canggih dan Mahal
  3. Khawatiran Tidak Bisa Mengoperasikan Media Pembelajaran
  4. Media Pembelajaran sebagai Sarana Hiburan
  5. Sekolah Tidak Menyediakan Media Pembelajaran 
  6. Guru Lebih Suka Berbicara

 

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Mengajar di Luar Bidang

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

24 MENGAJAR DILUAR BIDANG

 


Setelah kita mempelajari poin ke dua puluh tiga yaitu Tidak Bisa Mengoperasikan Media Pembelajaran

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas mengajar diluar bidang

 Guru mempunyai tugas mengajar. Namun, guru bukan sekadar mengajar, melainkan harus ahli di bidang yang diajarkannya. Sebab, guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidangnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar murid.


Beberapa hal yang menjadi dampak dalam belajar-mengajar ketika guru mengajarkan di luar bidangkan diantaranya adalah sebagai berikut

Kurang Puas

Setiap orang tidak akan puas secara maksimal jika dipaksa atau memaksakan diri untuk bekerja di bidang pekerjaan yang tidak dikuasainya atau tidak sesuai dengan minta, bakat, dan kemampuannya.

Tidak Termotivasi

Guru yang mengajar bukan bidannya cenderung memiliki motivasi yang rendah untuk mengajar. Dampaknya, sering terjadi menurunnya produktivitas guru akibat tidak termotivasi dalam mengajar. 

Keahlian Guru Menjadi Tidak Berkembang

Guru yang mengajar di luar bidangnya akan memendekkan keahliannya yan gsejak semula digelutinya. Hal ini akan membuat guru tidak menguasai sepenuhnya terhadap seluruh bidang yang digelutinya, padahal ilmu pengetahuan terus berkembang.

Kurang Menarik

Kegiatan belajar-mengajar akan terasa kurang menarik apabila ditangai oleh guru yang bukan ahlinya. Ini terjadi karena guru tersebut akan mengalami kesulitan untuk membuat muridnya paham, apalagi sang guru juga kurang memahaminya. Ketika murid merasa kurang tertari belajar, prestasi belajarnya pun akan menurun.

Tingkat Lulusan Rendah

 Ketika murid tidak tertarik untuk belajar disebabkan oleh guru yang mengajar bukan ahlinya, maka hal ini akan membuat motivasi berlajarnya rendah. Itu juga akan berpengaruh terhadap tingkat dan kualitas lulusan. Lulusan dari sekolah.yang gurunya mengajar bukan di bidangnya akan rendah dibandingkan dengan sekolah yang diajari oleh guru yang sesuai dengan bidangnya.

Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa yang paling sulit untuk menertibkan guru agar mengajar sesuai bidangnya adalah ketiak sekolah kekurangan guru. Tentunya, ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pihak yang berwenang di bidang pendidikan

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Tidak  Mengikuti Perkembangan Zaman

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

22 TIDAK MEMPERHATIKAN PERBEDAAN INDIVIDUAL

 

 


 

 

Setelah kita mempelajari poin ke dua puluh satu yaitu Diskriminatif

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas Tidak Memperhatikan Perbedaan Individual

 

Perbedaan Individu murid amat penting diperhatikan bagi seorang guru dalam aktivitas belajar-mengajar. Sebab, ketika seorang guru mengetahui perbedaan individu muridnya, maka guru lebih mudah dalma mencari cara metode dan pendekatan pembelajaran yang efektif sekaligus menarik bagi seluruh murid.

Perbedaan individu yang lebih mendalam mengenai ciri-ciri murid berkaitan dengan kecerdasan, bakat, kesehatan, emosional, dan keluarga. (sumber : satulagi.com). Untuk lebih jelasnya, silahak perhatikan uraian berikut ini:

Kecerdasan

Kecerdasan setiap murid tidaklah sama. Masing-masing memiliki bidang keunggulan sendiri setiap murid. Ini dapat ditinjau dari daya tangak murid terhadap mata pelajarannya. Jika murid lamban dalam memahami pelajaran atau sesuatu, berarti ia dikatakan kurang cerdas pada bidan tersebut. Murid tersebut membutuhkan pendekatan khusus. Sebaliknya, murid yang memiliki kecerdasan tinggi biasanya lebih cepat memahami sesuatu. Dalam hal ini, guru tetap dituntut semakin menyempurnakan kecerdasannya.

Bakat

Bakat murid dapat diketahui melalu tes bakat saat pertama kali masuk sekolah. Atau, guru bisa mengetahui bakat murid dalam sesi perkenalan yang biasanya dilakukan pada awal periode atau permulaan kegiatan belajar-mengajar.

Sementara itu, kurikulum di sekolah cukup banyak. Lazimnya, murid lebih tertarik pada kurikulum yang dapat menunjukan bakatnya. Oleh karena itu, guru harus mampu menyajikan mata pelajaran yang sekiranya menunjang seluruh bakat murid yang berbeda-beda.

Kesehatan

Kondisi kesehataan masing-masing murid tentunya tidaklah sama setiap kali mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Selain itu, adal pula muri dyang keadaan tubunya normal sempurna, tetapi ada juga murid yang memiliki keterbatasan, seperti mengalami gangguan pada pengelihatan, penegaran, tangan, dan lain-lainnya.

Semua ini dapat mempengaruhi minat dan efisiensi murid dalam belajar-mengajar. Oleh karena itu, guru harus mengetahui kondisi kesehatan seluruh muridnya sehingga ia menemukan pendekatan khusus bagi murid yang kurang sehat.

Emosional

Adapun yang dimaksud emosional di sini adalah sikap sosial murid ketiak berhubungan dengan orang lain. Misalnya, guru mencermati murid yang cepat marah, pendiam, pemberani, pemalu, suka menyendiri, dll. Semua sikap sosial yang berkaitan degnan kecerdasan emosional itu dapat mempengaruhi proses belajar-mengajar. Keragaman emosi tersebut dapat diketahui oleh guru dengan mudah. Oleh karena itu, pendekatan secara emosional yang emansipatif dan veriatif perlu dilakukan oleh guru.

Menurut KBBI 

eman.si.pa.tif /èmansipatif/ adalah a bersifat emansipasi

va.ri.a.tif adalah a bersifat variasi

Keluarga

Kondisi keluarga setiap murid dapat berpengaruh terhadap motivasi belajarnya sehingga menyebabkan perbedaan individual. Perbedaan dalam keluarg itu menyengkut masalah ekonomi, sikap, apresiasi, komunikasi, kerja sama, pola pikir, minat, dan lain-lain.


Mengenai perbedaan individu murid, sudah banyak ahli yang menelitinya. Salah satu peneliti terkenal dalam hal ini adalah Howard Gardner. Hasil dari pemikirannya sering kali disebut dengan teori kecerdasan ganda (multiple intelligence).  Gardner menemukan bahwa kecerdasan itu terdiri atas tujuah macam, yaitu

Kecerdasarn linguistik (linguistic intelligence)

Kecerdasan musik (musical intelligence)

Kecerdasan bodi-kinestetik (bodily-kinestetic intellegence)

Kecerdasan logika-metematika (logical-mathematical intelligence)

Kecerdasan ruang (spacial intelligence)

Kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence)

Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence)

 

Sehubungan dengan itu, perbedaan kecerdasan yang terdapat pada murid harus mendapatkan perhatian dari guru. Guru jangan hanya fokus pada satu kecerdasan agar seluruh murid yang memiliki peredaan kecerdasan mendapatkan hasil belajar yang optimal.

 

 

 

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Tidak Bisa Mengoperasikan Media Pembelajaran

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

21 DISKRIMINATIF

 

 


Setelah kita mempelajari poin ke dua puluh yaitu Tidak Perduli dengan Presensi Murid

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas Diskriminatif

 

Dalam kegaiatan belajar-mengajar, guru dituntut untuk berlaku adil dan tidak diskriminatif terhadap seluruh murid. Dalam hal ini guru diibaratkan seperti orang tua yang memiliki banyak anak. Kasih sayang orang tua harus diberikan secara merata kepada seluruh anak, baik terhadap secara merata kepada seluruh anak, baik terhadap anak yang paling patuh maupun anak yang bandel diperlakukan secara adil. Jika kasih sayang tidak dilakukan secara adil maka akan timbul kecemburuan dari anak yang kurang mendapat kasih sayang.

Guru yang tidak adil dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar murid. Sebab, murid yang merasa kurang mendapatkan perhatian dari guru cenderung akan belajar asal-asalan atau tidak akan semakin meningkatkan prestasi belajarnya. Sebaliknya, murid yang paling banyak mendapatkan perhatian kemungkinan akan terus meningkatkan prestasi belajarnya.

Dari sinilah, dapat ditarik kesimpan bahwa jika ingin seluruh murid meningkatkan prestasi belajar, guru harus adil. Tidak perlu ada murid yang diistimewakan, meskipun ada murid yang paling rajin dan cerdas.

Guru yang melakukan diskriminatif dapat ditelusuri penyebabnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Menganggap Diri sebagai Penguasa

 Ketidakadilan seorang guru terhadap muri dlazimnya terjadi pada guru yang menganggap dirinya sebagai penguasa yang otoriter. Kelas dianggap miliknya atau berada dalam genggamannya. Suasana kelas diatur sepenuhnya oleh guru atau sesuai dengan seleranya. Gerak-gerik murid pun diawasi.

Karena itulah, murid yang patuh dan tunduk kepada guru sekaligus cerdas mendapatkan perhatian penuh dari guru. Sedangkan murid yang tidak patuh dan bodoh akan memperoleh hukuman, bahkan diusir keluar kelas. Di sini, telah terjadi diskriminasi akibat guru menganggap diri sebagai penguasa.

Maka, guru jangan hanya menaruh perhatian pada murid yang patuh, tetapi murid yang tidak patuh juga mesti diberi perhatian dan diarahkan secara bijaksaan agar dapat mengikuti kegiatan belajar-mengajar secara optimal.

Membedakan Murid yang Cerdas dan Kurang Cerdas

 Membedakan murid yang paling cerdas dengan kurang cerdas untuk memberikan metode yang berbeda dalam mengajar tidaklah menjadi persoalan yang serius. Sebab, yang menjadi persoalan adalah ketika guru membedakan murid agar lebih memperhatikan murid yang memiliki kecerdasan tinggi, merupakan diskriminasi yang tidak patut dilakukan oleh guru.

 Ada Hubungan Keluarga

Guru yang memiliki hubungan keluarga dengan salah satu murid dapat mebuat guru  berlaku diskriminatif terhadapnya. Misalnya, murid  yang mempunyai hubungan keluarga diberi perhatian lebih saat mengajar, sedangkan murid yang tidak memiliki hubungan keluarga kurang diperhatikan. Jika ini terjadi , murid yang kurang mendapat perhatian akan merasa cemburu dan meremehkan guru.

Murid Berasal Dari Keluarga Kaya atau Anak Seorang Pejabat

Seorang guru dapat berlaku diskiminatif disebabkan oleh adanya salah satu murid yang berasal dari keluarga kaya atau anak seorang pejabat. Murid yang berasal dari keluarga kaya diistimewakan, sedangkan murid berasla dari keluarga miskin kurang diistimewakan. Guru yang demikian bukalah guru yang adil yang tidak pilih kasih dalam memberikan perhatian dan pembelajaran terhadap seluruh murid.

Oleh karena itu, dengan beberapa alasan yang dapat menyebabkan guru harus berlaku adil dalam menjalankan profesinya. Ketidakadilan guru dalam kegiatan belajar-mengajar hanya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan muridnya.

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Tidak Memperhatikan Perbedaan Individual

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

19 MELAKUKAN PELECEHAN SEKSUAL

 


 

 

 

Setelah kita mempelajari poin ke delapan belas yaitu Mengajarkan Porno

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas Melakukan pelecahan seksual

 

 Berbagai perilaku yang dapat digolongkan dalam pelecehan seksual juga dapat digunakan untuk membaca perilaku guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap murid sekolah. 

Apabila guru melakukan hal seperti itu maka guru telah melanggar aturan yang sangat fatal karena merusak nama baik dunia pendidikan yang semestinya mendidik menjadi lebih baik sekaligus merusak harkat martabat guru itu sendiri

 

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Tidak perduli dengan presensi murid

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

FUNGSI DARI MANAJEMEN OPERASIONAL


 

Ada beberapa fungsi yang dimiliki dari manajemen operasional. Penjabarannya sebagai berikut :

Perencanaan

Tahap perencanaan ini meliputi semua kegiatan yang diawali dari penentuan barang dan jasa yang akan diproduksi hingga jadwal untuk memasarkan produk. Dalam perencanaan termasuk juga perencanaanpenggunaan sumber daya dan fasilitas lainnya untuk menghasilkan suatu produk.

Pengorganisasian

Dalam hal ini orang yang melakukan manajemen operasional harus menentukan jumalh dan jenis sumber daya  yang iperlukan untuk menjalankan semua aktivitas bisnis. 

Penelaah

 Tahap ini meliputi semua kegiatan untuk memperoleh keterangan tentang setaip kegiatan yang dikerjakan dalam kegiatan operasional dan produksi.

Pengawasan 

Tahap ini merupakan melakukan fungsi pengawasan yang mencakup semua kegiatan bertujuan mengerahkan dan menjamin agar berbagai kegiatan sesuai dengan yang direncanakan.


Sumber : accurate.id diakses tanggal 17 November 2021 pada pukul 19.30 WIB

CIRI-CIRI MANAJEMEN OPERASIONAL


 

Manajemen operasional memilik beberapa ciri-ciri karkteristik yang dapat dilihat dan dibedakan, berikut ini ciri-ciri manajemen operasional.

Bertujuan memproduksi barang dan jasa

Ciri-ciri pertama dari manajemen operasional adalah bertujuan untuk mengatur secara keseluruhan proses produksi barang dan jasa untuk menghasilkan pedapatan untuk perusahaan

Mempunyai kegiatan proses transformasi

Proses transformasi adalah segala kegiatan atau kelompok kegiatan yang mengambil satu atau lebih input, mengubah dan menambah nilai dari suatu barang dan jasa sehingga memberikan hasil output untuk pelanggan atau klien.

Misalkan apabila input itu berupa bahan baku, maka akan relatif lebih mudah untuk mengenali dan mengidentifikasi transformasi yang terlibat, seperti contoh susu diubah menjadi keju dan mentega. Namum apabila transformasi dimana input adalah sesuatu yang tidak berwujud seperti informasi atau orang, sigat transformasi mungkin kurang terlihat jelas. Misalnya, rumah sakit mengubah pasien yang sakit (sebagai input) menjadi pasien yang sehat (adalah output).

Terdapat suatu mekanisme pengendalian sebuah pengoperasian

Terakhir dari ciri-ciri manajemen operasional adalah terdapat suatu mekanisme yang mengatur dalam mengendaliakn pengoperasian pada suatu bisnis. Baik untuk mengoperasikan berupa langka-langka dalam proses operasi dasar seperti meningkatkan kualitas produk, mengurangi limbah, dan meningkatkan penjualan.


Sumber : accurate.id diakses pada 17 November 2021 pukul 15.10 WIB

18 MENGAJARKAN PORNO

 

 


 

 

Setelah kita mempelajari poin ke tujuh belas belas yaitu Mengajarkan Permusuhan dan Kebencian

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas mengajarkan porno

 Tidak dapat di pungkiri bahwa pornografi, pornoaksi, dan seks bebas serta penggunaan Narkoba juga melanda murid. Ini merupakan sebuah potret kusam bagi dunia pendidikan saat ini. Hal tersebut tadi jika dunia pendidikan tidak mampu memendung dan memfilter budaya mngatif dari luar yang menyusup ke dalam bangsa Indonesia akan berakibat buruk bagi generasi muda.

 Salah satu elemen pendidikan yang mempunyai tugas menanamkan nilai-nilai luhur pada murid, termasuk dengan nilai-nilai kehidupan seksual yang sehat dan normatif, adalah membutuhkan andil dari guru.  Memang tugas semacam ini tidak hanya menjadi tanggung jawab sepenuhnya bagi guru, melainkan juga tanggung jawab orang tua murid, tokoh masyarakat, dan masyarakat pada umumnya.

Dalam konteks tersebut, dapat dipetakan bahwa guru mempunyai tugas di sekolah, orang tua meiliki tugas di rumah, sedangkan tokoh masyarakat dan masyarakat umum mempunyai tugas di tempat-tempat umum. Semua elemen ini perlu saling bersinergi bersama untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan moralitas kepada murid.

Sebagai seorang guru yang benar-benar memahami profesinya yang mulia, seharusnya ia tidak mengajarkan hal-hal yang dapat meracun mental murid, seperti pornografi dan pornoaksi ataupun hubungan seksual yang tidak sehat dan tidak normatif.

Diambil dari website wartamarga.gunadarma.ac.id, Peter Weir, seorang sutradara, mengungkapkan bahwa penyebaran video porno, serta tayangan yang terlalu memamerkan erotisme dan kekerasan sangat tidak mendidik dan akan merusak mental murid, sehingga murid mengalami depresi dan sakit jiwa, ahkan bisa mengubah lingkungan dan budaya sekolah yang semula sehat menjadi tidak sehat. 

Sebenarnya, ketika guru mengajarkan hal-hal yang "berbau" porno, guru tersebut telah menghilangkan fungsinya sebagai penanam nilai-nilai luhur dan penjaga moralitas murid. Jika ini benar-benar terjadi, guru akan kehilangan harkat dan martabatnya, baik di mata murid, orang tua murid, dan masyarakat pada umumnya.

Maka, kesalahan guru ini jangan sampai terus berlanjut jika ingin guru dan sekolah tetap dikatakan sebagai tempat pendidikan yang paling ideal untuk menciptakan manusia yang memiliki moralitas luhur.

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Melakukan pelecehan seksual.

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

17 MENGAJARKAN PERMUSUHAN DAN KEBENCIAN

 


 

 

Setelah kita mempelajari poin ke enam belas yaitu Membuat Soal Ujian yang Tidak Diajarkan

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atasMengajarkan Permusuhan dan Kebencian

Negara kita yang memiliki keragaman budaya, seperti bahasa yang berbeda-beda dan keyakinan kepada Tuhan yang tidak sama, sangat urgen untuk mempelajari materi yang berkaitan dengan membangun jalan persaudaraan sesama manusia.

Lihat saja, negara kita dihuni oleh lebih dari 200 kelompok etnis dan memiliki 250 bahasa daerah yang berbeda-beda. Agama yang resmi oleh pemerintah ada 6, yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Walaupun demikian, keragaman tersebut mempunyai satu tujuan, sebagaimana yang tertera pada lambang negara burung garuda dalam bahasa Sanskerta "Bhinneka Tunggal Ika" atau berbeda-beda, tetapi satu tujuan.

Apa tujuan yang sama di balik perbedaan itu?

Tujuan yang sama dapat dilihat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatakan bahwa pemerintah negara Indonesia wajib melindungi segenap bangsa Indonesai dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdakaan, perdamaian abadi, dan keadilah sosial.

Apabila guru mengajarkan permusuhan dan kebencian kepada murid-muridnya maka sang guru menyalahi pembukaan UUD 45. Adapaun yang paling meyedihkan di sini adalah ketika ada seorang guru yang mengajarkan permusuhan dan kebencian terhadap muridnya. Pada umumnya ajaran permusuhan dan kebencian ini berbentuk larangan yang kadang tidak disadari berisi ajaran permusuhan dan kebencian. Kasus semacam ini dapat dicontohkan sebagai berikut:

Guru melarang murid berteman dengan anak yang tidak sekolah

Tujuan guru melarang murid bertemen dengan anak yang tidak sekolah biasanya, agar murid tidak terbujuk untuk tidak sekolah. Akan tetapi, jika ditelaah lebih mendalam, larangan ini berisi permusuhan dan kebecian terhadap orang lain. Dalam jiwa murid didik bisa tumbuh kebencian terhadap anak yang sekolah. Anak yang tidak sekolah dianggap anak yang tidak pantas untuk dijadikan seagai teman. Anak itu dinilai tidak bermutu dan harus dijauhi.

Disini, telah terjadi pemisahan antara anak yang dianggap pintar karena bersekolah dengan anak yang dianggap bodoh lantaran tidak sekolah. Padahal, belum tentu anak yang tidak sekolah itu bodoh karena ia tidak ingin sekolah. Boleh jadi, orang tuanya tidak memiliki biaya untuk mengekolahkannya.

Oleh karena itu, demi menjaga kebersamaan, kerukunan, saling menolong, dan saling belajar kepada siapa pun, tidak sepantasnya seorang guru melarang murid berteman dengan anak yang tidak sekolah.

Guru melarang murid bertemen dengan anak yang berbeda agama

Jika ada guru yang melarang murid berteman dengan anak yang berbeda agama, berarti guru tersebut telah mengajarkan permusuhan dan kebencian keapda oran gang agamanya berbeda dengannya, apalagi ditambah dengan perkataan yang stereotip, seperti agama lain sesat, kafir, teroris, dan hal-hal negatif lainnya. Jelaslah ini merupakan provokasi yang tidak oleh dibiarkan.

Guru yang mengajarkan permusuhan dan kebencian sebenarnya bisa dikatakan belum memahami kepada kesatuan dalam perbedaan yang dirumuskan oleh para pendiri bangasa Indonesia (the founding father)

Guru tersebut juga perlu belajar kembali mengenai hakikat keanekaragaman yang menjadi karakter bangsa Indonesia supaya tidak melakukan kesalahan, sebagaimana yang diungkapkan dalam uraian sebelumnya, dan tidak berdampak buruk terhadap sistem pendidikan di Indonesia.


 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Mengajarkan Porno

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

TUJUAN MANAJEMEN OPERASIONAL BAGI BISNIS

 


 Adanya manajemen operasional adalah untuk mengatur semua penggunaan sumber daya yang dimiliki pada suatu bisnis, dengan adanya manajemen operasional tentunya ada sesuatu yang dituju dalam arti lain manajemen operasional memilik tujuan sehingga proses produksi berlangsung secara efektif dan efisien. Berikut ini lima tujuan sistem operasional

Meningkatkan efisiensi perusahaan (efficiency)
Meningkatkan produktivitas perusahaan (productivity)
Mengurangi biaya pengeluaran berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan (economy)
Meningkatkan kualitas perusahaan (quality)
Mengurangi waktu proses produksi suatu perusahaan (reduced processing time)



Sumber : accure.co.id diakses pada taggal 17 November 2021 pukul 3.10 EBI

16 MEMBUAT SOAL UJUAN YANG TIDAK DIAJARKAN

 


 

 

Setelah kita mempelajari poin ke lima belas yaitu Mengubah Perolehan Nilai Murid

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atasMembuat soal ujia yang tidak diajarkan

 Pada sekolah hendak melaksankan ujian semester dan ujian sekolah, guru yang mengampu mata pelajaran yang hendak diujikan lazimnya membuat soal sendiri. Lalu soal dari guru dikumpulkan oleh pihak sekolah dengan soal-soal dari guru yang lain untuk disalin ke lembar soal resmi dari sekolah.

Guru akan membuat soal sesuai dengan materi pelajaran yang sudah diajarkan kepada murid dan kurikulum yang telah ditetapkan. Sebab, murid juga akan mempelajari segala sesuatu yang sudah diajarkan oleh gurunya dalam catatan-catatan bukunya selama mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Begitu juga murid  akan belajar sesuai kurikulum dan selesai dipelajari di sekolah untuk memersiapkan ujian. Dengan demikian, Guru akan membuat soal sesuai dengan pelajaran yang telah disampaikan kepada muridnya sehingga bisa menjadi tolak ukur belajar-mengajar. Ketiak murid yang sering membolos, tidak pernah belajar, tidak memperhatikan pelajaran, dan tidak membaca buku. Jelas mereka akan mengalami kesulitan untuk menjawab soal dari guru.

Lain halnya dengan guru yang sengaja membuat soal yang dapat menyilitkan murid saat menjawab, dengan memberiakn sola yang tidak pernah diajarkan di kelas. Murid akan mengalami kesulitan mengerjakan soal. Sekalipun murid yang rajin dan sering mencatat, memperhatikan saat proses belajar-mengajar. Seharunya guru memberikan soal yang mempermudah murid, dalam artian begini, soal-soal yang dikerjakan murid akan merangsang pemikiran murid dalam belajar untuk menganalisis dan mengaitkan dengan buku dan sesuatu yang diajarkan guru.

Adapun yang paling penting untuk diperhatikan oleh  seorang guru dalam mebuat soal adalah murid yang akan mampu menjawabnya dan seberapa banyak yang tidak akan bisa menjawabnya. Tetapi murid yang sudah diaggap dapat memberikan jawaban, hal itu tidaklah ada persoalan. Akan tetapi, bagi murid yang kurang mampu, bahkan tidak akan mampu menjawabnya diperlukan pendekatan khusus agar murid bisa menjawabnya Guru harus mencari tahu mengenai berbagai alasan yang membuat sebagian murid tidak akan mampu memberi jawaban. Sebenarnya, jauh-jauh hari, guru harus sudah mengetahuinya karena ini berkaitan dengan minat, bakat, dan motivasi belajar seluruh murid.

 

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam Mengajarkan Mengajar Permusuhan  dan Kebencian

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 


PENGERTIAN MANAJEMEN OPERASIONAL


 

Penting kita mengetahui manajemen operasional dalam suatu bisnis.

Menurut parah ahli, salah satunya yaitu ali manajemen, J. Heizer dan B. Render mendefinisikan manajemen operasional sebagai berikut

Manajemen operasional merupakan suatu bentuk pengelolaan menyeluruh dan optimal pada aspek tenaga kerja, barang-barang (mesin, peralatan, dan bahan mentah) atau faktor produksi lain yang dijadikan produk barang dan jasa yang laxim diperdagangkan.

Manajemen operasional bisa juga diartikan sebagai pengelolaan (perencanaa, pengorganisasian, pengarahan, pengoordinasian, dan pengendalian) semua kegiatan yang berhubungan dengan barang dan jasa secara langsung.

Selain itu, Manajemen operasional juga sebagai aplikasi ilmu manajemen untuk mengatur semua kegiatan produksi agar berjalan secara efektif dan efisien. Pengertian dari ahli lainnya yaitu sebuah proses berkesinambungan dan efektif dalam memakai semua fungsi manajemen untuk mengintegrasikan beragam sumber daya secara efisien demi terwujudnya tujuan perusahaan.

 Didalam manajemen operasional ada strukur kepengurusan yang mesti dibentuk dan dilakukan sesuai fungsi masing-masing. Pimpinan yang tertinggi dalam sistem ini adalah manajemen operasional.


Sumber : accurate.id diakses 17 November 2021 pukul 3.05 WIB

15 MENGUBAH PEROLEHAN NILAI MURID

 


 

Setelah kita mempelajari poin ke empat belas yaitu Membocorkan Rahasia Ujian

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas Mengubah Perolehan Nilai Murid

 Dalam sebuah sekolah untuk menunjukkan hasil dari proses belajar-mengajar sebagai bukti pembelajaran adalah adanya buku rapor yang berisi penilaian guru terhadap muridnya.

Akan tetapi ketika oknum guru yang tidak tertanggung jawab memberikan nilai kepada murid tidak sebagaimana mestinya atau mengubah nilai murid baik menaikkan atau menurunkan nilainya. Dengan demikian telah terjadi kecurangan karenga penilainya tidak secara objektif sesuai dengan kemampuan murid yang sesungguhnya.

Persoalan guru yang mengubah perolehan nilai ini terdiri dari dua macam, yaitu mengubah nilai dengan maksud mengatrol nilai murid naik dan mengubah nilai dengan maksud mengurangi nilai murid.

A. MENGATROL NILAI MURID

Agar nilai rapor sekolah menunjang untuk kelulusan murid, ada sebagian guru dan kepala sekolah yang tidak segan-segan mengatrol nilai rapor murid yang ikut ujian misalkan. Jika mengatrol nilai sekolah benar-benar terjadi, sebenarnya guru telah melakukan kesalahan besar. Alasan guru yang mengatrol nilai murid untuk menolong murid perlu dipertanyakan. Apakah guru menolong murid atau menolong dirinya sendiri dan institusi tempat dirinya mengajar?

Jawaban dari pertanyaan tersebut lebih cenderung pada guru menolong dirinya sendiri atau institusinya. meskipun guru menambahkan alasan bahwa sesuatu yang dilakukannya (menolong dengan menatrol nilai murid) tidak meminta imbalan berupa materi sedikit pun kepada murid. Argumen ini bisa "dipatahkan" dengan argumen bahwa jelaslah guru tidak meminta imbalan lantara yang dibantu sebenarnya bukan murid melainkan guru dan institusi.

Alasan guru dan sekolah melakukan mengatrol nilai murid

a. Guru Takut Dianggap Gagal Mendidik Murid

Ketika banyak  murid yang tidak lulus mengikuti Ujian Nasional, jelaslah bahwa yang akan disalahkan untuk pertam akali adalah guru. Guru akan dianggap gagal dalam mengajar dan mendidik. Ketakutan untuk disalahkan itulah yang  memungkinkan guru nekat mengatrol nilai murid dengan alasan menolong Di sini, sebenarnya telah terjadi ketidakjujuran yang dilakukan oleh guru.

Sebenarnya, jika guru benar-benar berjiwa kesatria, ia akan menyadari dan mengakui kelemahan-kelemahannya dalam mengajar, tanpa harus menutupinya dengan mengatrol nilai murid. Guru yang mengakui kelemahan-kelemahannya tidak akan pernah melakukan inovasi dalam metode dan teknik mengajar sehingga dapat mendongkrak prestasi muridnya.

b. Sekolah Takut Dikatakan Tidak Maju dan Tidak Bermutu

Guru berada di bawah naungan pihak sekolah. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa jika terdapat guru yang tidak profesional, sebenarnya sekolah yang berandil banyak dalam keberhasilan gurunya dalam mengajar murid. Kegagalan guru dalam mengajar murid menjadikan Sekolah tidak akan mengalami kemajuan dan jelas tidak bermutu. 

Untuk menutupi kekurangan ini, sekolah melakukan pengatrolan nilai murid. Pengatrolan ini bertujuan meningkatkan mutu sekolah, sedangkan murid hanya terangkat nilainya secara quantitatif, padahal kualitatifnya masih perlu dipertanyakan. Sehingga, tidak heran jika ada murid yang mau mendaftar ke Jenjang sekolah yang lebih tinggi dengan berbekal nilai rapor

 

 

 

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Membuat Soal Ujian Yang Tidak Diajarkan

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

DEDUKTIF DAN INDUKTIF


 

Pada rintangan sains dalam penelitian

Salah satu metode investigasi ilmiah yang utama adalah metode hipotesis  deduktif. Proses deduktif dan induktif dalam penelitian dijelaskan dibawah ini

 

Deduksi dan induksi

Deduksi adalah proses dimana kita tidak pada  suatu kesimpulan beralasan melalui generalisasi logis dari sebuah fakta yang diketahui. Misalnya, kita mengetahui bahwa semua orang yang berkinerja tinggi adalah sangat menguasai pekerjaan mereka. Bila John berkinerja tinggi, kita kemudian meyimpulakn bahwa ia sangat menguasai pekerjaannya. (dari umum ke khusus)

Induksi adalah proses dimana kita mengamati fenomena tertentu dan berdasarkan hal tersebut tiba pada kesimpulan. Dengan kata lain, dalam induksi, kita secara logis membuat sebuah proporsi umum berdasarkan fakta yang diamati. Misalnya kita melihat proses prouksi merupakan ciri utama dari pabrik manufaktur. Karena itu, kita menyimpulkan bahwa pabrik eksis untuk tujuan produksi. (dari khusu ke umum)

Baik proses deduktif maupun induktif digunakan dalam invetigasi.

Rintangan penyelidikan ilmiah meliputi proses mengamati fenomena pada awalnya, mengidentifikasi masalah, membangun sebuah teori yang mungkin berlaku, membuat hipotesis, menentukan aspek-aspek desain penelitian, mengumpulkan data menganalisis data, dan mengiterpretasi hasil.

 

Sumber

Buku : Research Methods for Business Metodologi Penelitian untuk Bisnis 

Buku 1 Edisi 4

Penulis : Uma Sekaran

Penerbit : Penerbit Salemba Empat

Tahun : 2014 

14 "MEMBOCORKAN" RAHASIA UJIAN

 


 

Setelah kita mempelajari poin ke tiga belas yaitu Membiarkan Murid Saling Menyontek

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas Berpakaian Tidak Rapi


Ujian yang dilakukan oleh para guru kepada muridnya harus dirahasiakan baik soal-soal ujian dan kunci jawaban soal-soal ujian. Jika rahasi ujian ini "dibocorkan" kepada murid maka murid akan mencari jawaban di luar waktu yang sudah ditentukan dengan berbagai macam cara, apalagi murid sudah mengantongi jawaban ketika hendak mengerjakan soal ujian sehingga murid tinggal menyalin ke kertas jawaban.

"Pembocoran" rahasia ujian oleh oknum guru yang paling santer dibicarakan adalah saat UN, selain itu juga ulangan dan ujian sekolah. 

Ujian seharusnya dapat memotivasi seorang guru untuk menginovasi meteode pembelajaran belajar-mengajar jika mendapati hasil ujian murid yang tidak lulus, buka mencari jalan pintas yang penuh resiko dengan membocorkan ujian untuk meluluska muridnya.

Guru yang "membocorkan" rahasia ujian kepada murid sebenarnya telah mengajarkan untuk menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan berprestasi atau untuk mencapai tujuan. Melakukan hal demikian adalah tindakan jauh dari kejujuran dan kebenaran sehingga hasil yang didapat hanya sebatas bagus diatas kertas akan tetapi, esensi dari belajar bagi murid tidak didapat.

Disinilah tantangan berat bagi guru dalam belajar-mangajar. Jika guru benar-benar mendidik muridnya dengan baik dan benar tanpa kecurangan dalam proses belajar mengajar dan dilakukan secara senang, guru akan berhasil mengantarkan muridnya meraih prestasi belajar yang optimal.

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Mengubah Perolehan Nilai Murid

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

13 MEMBIARKAN MURID SALING MENYONTEK

 


 

Setelah kita mempelajari poin ke dua belas yaitu Tidak Melakukan Evaluasi

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas Membiarkan Murid Saling Menyontek

 

Saat guru mengadakan ulangan, sorang guru yang menjaga dan mengawasi murid dalam mengerjakan soal ulangan duduk dikursi guru paling depan menghadap murid yang sedang mengerjakan ulangan dan guru hanya duduk dan tidak mengawasi dan menjaga jalannya ulangan. Sedangkan murid mengerjakan soal dengan sedikit gaduh karena ada sebagian murid yang bekerja sama untuk menjawab soal. Selain itu, ada pula murid yang menyontek dan memberi contekan.

Ironisnya, sang guru yang menjaga ulangan ini malahan membiarkan murid melakukan sesuatu yang mengganggu dan dilarang saat ulangan tersebut. Sang guru hanya melakukan teguran verbal kepada murid dengan memberi peringatan untuk tidak gaduh dan mengerjakan sendiri-sendiri.

Seorang guru yang membiarkan muridnya untuk mencontek telah melakukan kesalahan dan pelanggaran yang sudah ditetapkan oleh sekolah, tata tertib ujian ulangan dan aturan negara

 Ulangan dan ujian menjadi tidak mempunyai nilai penting bagi murid dan guru jika guru membiarkan muridnya melanggar aturan tata tertub ujian, seperti membiarkan murid saling menyontek, membuka catatan, menyontek jawaban dari buku, dan menggunakan media lain, misalnya HP, yang kemudian disalin ke lembar ujian. Hali ini disebut dengan mempraktekkan ketidakjujuran.

Menyontek akan membuat tujuan dari adanya ujian dan ulangan tidak tercapai, seperti guru tidak akan mengetahui tingkat pemahaman tiap muridnya, guru juga tidak bisa  mengetahui kelebihan dan kekurangan dirinya dalam mengajar sehingga tidak ada inspirasi untuk memperbaiki kemampuan mengajar.

Beberapa alasan yang tidak dibenarkan dalam membiarkan murid saling menyontek

  1. Takut Kehilangan Nama Baik, ketakutan guru kehilangan nama baik diawali dengan ketakutan sekolah akan kehilangan nama baiknya jika banyak murid yang tidak lulus Ujian. Oleh karena itu, demi menjaga nama baik oknum guru dan sekolah saat Ujian, oknum guru dan sekolah bekerja sama untuk melakukan kecurangan-kecurangan ketika ujian, yang salah satunya adalah membiarkan murid saling menyontek.
  2. Mengutamakan Nilai Yang Berupa Angka, Kemampuan bergerak maju secara psikologis murid dalam belajar sangat penting karena dari sinilah akan muncul murid yang terlatih untuk percaya diri akan hasil belajar sendiri. Bila progresivitas ini dimiliki murid nilai di atas kertas akan mudah diraih. Akan tetapi, jika nilai di atas kertas yang menjadi tujuan utama, murid akan cenderung akan mencari jalan pintas, apalagi sang guru juga mengutamakan nilai berupa angka di atas kertas.

 

 

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar "Membocorkan" Rahasia Ujian

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

12 TIDAK MELAKUKAN EVALUASI

 


Setelah kita mempelajari poin ke sebelas yaitu Berpakaian Tidak Rapi

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas Tidak Melakukan Evaluasi

 

Dalam proses belajar-mengajar untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan proses belajar-mengajar, pada umumnya dalam akhir periode pelajaran. guru mengadakan evaluasi. Evaluasi ini menjadi penting karena berkaitan dengan beberapa pertanyaan, yaitu apakah materi yang diajarkan dapat dikuasai oleh murid atau tidak? Apakah kegiatan belajar-mengajar berjalan dengan maksimal? Dimanakah letak kekurangan dan kelebihan selama proses belajar-mangajar berlangsung? Dan, apakah metode dan teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar sudah tepat atau belum? Pertanyaan semacam ini yang seharusnya memotivasi guru untuk melakukan evaluasi.

 Sebenarnya, melakukan evaluasi dalam kegiatan belajar-mengajar dapat dibagi menjadi dua , yaitu evaluasi terhadap murid dan evaluasi terhadap guru. 

  • Evaluasi terhadap Murid

Evaluasi terhadap murid dapat dilakukan pada akhir pelajaran dengan beberapa metode. Diantaranya ialaha guru mengajukan beberapa pertanyaan secara langsung kepada murid, memberi pertanyaan secara tertulis, dan meminta kepada murid untuk menjawab pertanyaan secara tertulis juga, serta menyuruh murid menjelaskan kembali sesuatu yang sudah dipelajari.

Tujuan dilakukan evaluasi kepada murid adalah memberi pengetahuan guru mengenai kemampuan murid dalam memahami materi yang diajarkan, serta mengetahui seberapa banyak murid yang telah memahami dan belum memahami materi pelajaran.

  •  Evaluasi terhadap Guru

Hasil dari evaluasi terhadap murid juga  mencerminkan hasil dari tugas mengajar seorang guru. Oleh karena itu, kurang tepat bila hasil evaluasi belajar murid yang tidak memuaskan disebabkan oleh rendahnya mutu belajar murid itu sendiri.  Dalam hal ini, bisa saja terjadi kondisi sebaliknya, yakni mutu mengajar gurulah yang rendah sehingga menghasilkan murid yang kurang optimal dalam belajar dan menguasai pelajaran. Dari sinilah, muncullah ide cemerlang, yaitu seorang guru juga harus mengevaluasi dirinya sendiri, selain mengevaluasi muridnya.


 

 

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar Membiarkan Murid Saling Mencontek

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

11 BERPAKAIAN TIDAK RAPI

 


Setelah kita mempelajari poin ke sembilan yaitu Komunikasi Tidak Efektif

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas Berpakaian Tidak Rapi

Guru dalam sekolah terutama di kelas merupakan teladan bagi murid-muridnya yang setiap apa yang ada pada diri guru akan menjadi bahan contoh yang akan dikuti oleh murid-murid. Pakaian bisa berpengaruh terhadap citra diri seseorang. Citra seseorang dapat dilihat terangkat ketika pakaiannya rapi dan sopan. Sebaliknya, ketika seseorang  berpakaian semrawut atau acak-acakan akan menurunkan citra diri orang tersebut.

Seoran guru, selain punya tugas mengajar dan mendidik, juga bertugas memberikan contoh berpakaian yang baik kepada seluruh muridnya. Contoh pakaian yang baik adalah pakaian yang rapi dan sopan, yang sesuai dengan kebiasaan di negar kita.

Pakaian yang rapi dan sopan, selain memancarkan cahaya keindahan, juga mencerminkan kepribadian dan jati diri yang baik. Sebaliknya, pakaian yang semrawut dapat menunjukkan betapa buruk dan semrawutnya kepribadian dan jati diri seseorang. 

Saat ini kita memang kesulitan untuk menilai seseorang dari segi penampilannya. ada seseoran gang berpakianan rapi, tetapi melakukkan korupsi uang negara.

Untuk mengatasi kesulitan itu kita bisa melihat dari sesuatu yang ada pada diri orang berupa tindakan, ucapan, dan cara berpakaian. Meskipun ini cenderun terlihat terlalu disederhanakan, paling tidak kita mengetahui dari kebiasaan seseorang dalam melakukan sesuatu.

Jika ada guru yang beralasan bahwa pakaian yang dikenakan tidak ada hubungannya dengan intelektual seseorang dan tidak menghalangi untuk melangsungkan kegiatan belajar-mengajar karena pakaian fungsinya sebagai penutup tubuh, pelindung dari panas dan dingin, serta tidak lebih dari itu, maka ini dapat ditepis dengan argumen bahwa pakaian tidak hanya menunjukkan aksesori, tetapi lebih dari itu, yakni mencerminkan jati diri dan kebuadayaan daerah tertentu. Apalagi, seorang guru punya pengaruh untuk diikuti oleh muridnya. Maka, dalam hal ini, guru wajib memberikan contoh berpakaian yang baik dan rapi kepada muridnya.

Beberapa dampak negatif ketika guru berpakaian tidak rapi dan tidak sopan. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Tidak memberikan contoh yang baik dalam berpakaian
  • Mencerminkan jati diri yang semrawut dan tidak pantas untuk ditampilkan
  • Tidak menghormati orang lain
  • Tidak mendidik untuk melestarikan kebudayaan luhur.

 Nantikan artikel berikutinya yaitu poin 12 dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar "Tidak Melakukan Evaluasi"

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 


 

 

20 TIDAK PEDULI DENGAN PRESENSI MURID

 

 


 

 

 

Setelah kita mempelajari poin ke sembilan belas yaitu Melakukan pelecahan seksual

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas tentang Tidak peduli dengan presensi murid

 Ketika mengawali kelas biasanya seorang guru melakukan absen memanggil nama murid satu per satu sesuai daftar nama murid dikelas tersebut. Kegiatan ini dilakukan setelah melakukan doa dan mengucap salam. Namun, ada juga guru yang mengecek kehadiran murid menjelang akhir jam pelajaran sebelum mengucapkan salam perpisahan hari itu.

Guru yang sering mengecek presensi murid adalah guru yang sangat peduli terhadap presensi keberadaan muridnya. Murid yang tidak hadir, akan ditanyakan kepada murid lain mengenai alasan ketidakhadirannya. Alasan ketidak hadirannya menjadi acuan untuk melakukan tindakan yang membuat mengerti kesalahan murid.

Prof. Dr. Arief Rachman menyampaikan bahwa salah satu tugas guru yang paing penting adalah mengetahui presensi murid. 

Selain itu, sebenarnya guru yang peduli terhadap presensi murid sangat mengedepankan proses ketimbang hasil. Sedangkan, alasan guru yang tidak peduli terhadap presensi murid adalah anggapan bahwa hasil lebih penting daripada proses.

Ada beberapa dampak jika guru tidak peduli terhadap daftar hadir murid. Dinataranya ialah sebagai berikut:

  1. Sering Bolos
  2. Meremehkan Guru
  3. Mengajarkan Tidak Disiplin

 Nanti lanjut lagi

 

 

 

Nantikan artikel berikutinya yaitu dari ragam kesalahan umum guru dalam mengajar

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

10. Komunikasi Tidak Efektif

 


 Setelah kita mempelajari poin ke sembilan yaitu Sering Bolos

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas komunikasi tidak efektif

Komunikasi dalam kegiatan belajar-mengajar, secara sederhana, dapat diartikan sebagai proses pertukarna ide dan gagasan antara guru dan murid. Komunikasi  dalam kegiatan belajar-mengajar diharapkan berlangsung se-efektif mungkin. Sebab, komunikasi yang berjalan secara efektif dapat meningkatkan prestasi belajar-mengajar.

Sebaliknya, komunikasi yang tidak efektif akan mempengaruhi proses balajar-mengajar menjadi tidak sifinfikan. Dari sini, dapat diketahui peran penting guru untuk membangun komunikasi yang efektif dengan muridnya. Oleh karena itu, guru punya kewajiban untuk terus belajar mengenai cara berkomunikasi secara efektif dengan muridnya. 

Berikut adalah beberapa kesalahan guru yang berkaitan dengan komunikasi tidak efektif saat kegiatan belajar-mengajar.

1. Pemborosan Kata

Saat sorang guru berkomunikasi dengan muridnya menggunakan kata-kata yang berbelti-belit. Sebagai contoh. "Besok, kalian tidak boleh terlambat lagi masuk kelas. Jika terlambat lagi, nilai rapot kalian akan saya rendahkan. Kelak, kalian akan menyesal. Bila begini terus, kalian mau jadi apa?" Kalimat tersebut cobalah untuk diubah dengan kalimat ini, " Besok, kalian jangan terlambat lagi agar kalian menjadi anak yang disiplin dan pandai." Dalam contoh ini, tidak perlu menggunakan kalimat "kalian akan menyesal" karena kata-kata ini sangat subjektif dan kurang efektif. 

Oleh karena itu seorang guru harus pandai memilih kata-kata yang efektif dan bermanfaat yang bisa dipertanggung jawabkan perkataannya di depan murid-murid.

2. Suara Tidak Jelas

Suara guru harus bersuara dengan jernih. Boleh jadi, ada guru yang volume suaranya sangat rendah sehingga murid yang duduk di barisan paling belakang tidak dapat mendegar penjelasannya. Di sini, telah terjadi komunikasi yang tidak efektif antara guru dengan muridnya. Oleh karena itu, suara guru harus lah jernih dan jelas  mampu menjangkau seluruh ruang kelas.

Suara yang keras ketika menjelaskan bukan berarti harus berteriak-teriak, melainkan cukup didengar secara nyaman oleh seluruh murid dan terdengar ke seluruh kelas. Dalam artian, suara tidak terlalu keras dan tidak terlalu lemah juga. Suara juga nyaman didengar akan mendorong murid untuk fokus pada pesan yang disampaikan oleh guru.

3. Kata-Kata yang Membingungkan

Kesalahan ini kadang tidak disadari oleh seorang guru, yaitu ketika menjelaskanpelajaran kepada muridnya menggunakan kata-kata yang membingungkan atau tidak dapat dimengerti oleh murid. Misalnya, saat guru menggunakan istilah-istilah yang terdengar asing dan baru bagi murid. Istilah-istilah asing dan baru tersebut tidak dijelaskan makna dan pengertiannya. Guru menganggap murid mempu mencerna dan memahaminya, padahal ada murid yang belum mendengarnya, apalagi mengetahui maksudnya. 

Penjelasan dari guru mengenai istilah yang digunakan akan "menggugurkan" komunikasi yang tidak efektif. Oleh karena itu, dalam menggunakan istilah yang kelihatan baru bagi muridnya, sebaiknya guru menyertai dengan pengertiannya agar murid tidak kebingungan untuk memahami makna dari istilah yang disampaikan oleh sang guru.

4. Pengertian yang Tidak Tepa

Isitilah yang dianggap baru harus diiringi dengan pengertian yang tepat kepada murid. Sebagai contoh, istilah "fundamentalisme" mempunyai pengertian yang cukup banyak. Pengertian ini harus disesuaikan dengan topik pembaicaraan. Jangan sampai fundamentalisme dalam kajian agama disampaikan dengan kajian dalam ilmu ekonomi. Oleh karena itu, guru harus pandai menggunakan istilah dan pengertiannya yang sesuai dengan konteks komunikasi yang berlangsung.

5. Memberi Lebel Negatif

Salah satu komunikasi guru yang tidak efektif dalam kegiatan belajar-mengajar yang paling mencolok adalah memberi lebel negatif kepada muridnya.Misalnya, guru mengatakan, "Kamu kurang ajar seperti kera yang tidak pandai berpikir." Kata-kata negatif semacam ini akan sangat berpengaruh bagi kejiwaan murid, yang membuatnya akan melakukan perlawanan dengan semakin membenci sang guru atau menjadi murid yang pasarah dan penakut.

Siapa pun itu, jika disematkan label negatif, tentu saja akan menolak. Ini perlu diperhatikan oleh guru. Jangan sampai label negatif disematkan kepada murid didiknya bila guru ingin membangun komunikasi yang efektif.

6. Tidak Menguasai "Bahasa Ibu" Murid

Penting untuk diketahui bahwa di desa, murid dalam kesehariannya sering kali menggunakan "bahasa ibu" atau bahasa daerah. Dalam kegiatan belajar-mengajar, seorang guru yang tidak mengerti bahas daerah muridnya akan membuat komunikasi tidak efektif. Ini bisa terjadi pada guru pendatang baru Misalnya,guru tersebut berasal dari kota sering kali memakai Bahasa Indonesia atau guru berasal dari luar provinsi yang bahasa daerahnya tidaklah sama.

Ketika guru mengajar dengan memakai Bahasa Indonesia sepenuhnya, sedang murid belum sepenuhnya menguasai bahas Indonesia, makan akan membuat kata-kata dari guru tidak dimengerti oleh murid. Oleh karena itu, kata-kata guru harus dicampur dengan bahasa daerah.

7. Tidak Ada Kecocokan Komunikasi Verbal dan Non Verbal

Komunikasi verbal dan nonverbal yang dilakukan oleh guru dan murid harus sama-sama dipahami dan ada kecocokan agar terjadi komunikasi yang efektif.

Contohnya, Guru akan membelakangi murdinya ketiak menulis di papan tulis yang letaknya di depan kelas, Nah, saat menulis inilah, tiba-tiba ada murid yang bergurai. Kemudian, guru menegur murid yang bergurai tersebut, tetapi tanpa membalikkan tubuh dan pandangannya ke arah murid yang bergurai untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya benar-benar menegur. 

Murid yang ditergur memang berhenti bergurai. Tetapi, mereka melanjutkan gurauannya dengan cara lain misalkan dengan sembunyi-sembunyi membunyikan alat tulis. Dengan demikian, komunikasi verbal dan nonverbal yang tidak cocok, sebagaiaman yang dicontohkan tersebut, sangat tidak efektif karena cenderung diabaikan oleh murid sebagai penerimaan pesan. Oleh karena itu, komunikasi verbal dan nonverbal harus cocok.

Guru selain menguasai komunikasi verbal, juga harus pandai berkomunikasi secara nonverbal, baik untuk memperkuat komunikasi verbal atau pun mengetahui keinginan murid yang tidak diungkapkan lewat kata-kata.

8. Komunikasi Satu Arah

Kesalahan lain pada seorang guru dalam berkomunkasi denga murid sehingga tidak efektif dalam komunkasi satu arah. Sebab, dalam komunkasi satu arah , tidak ada umpan balik (feedback). Di sini, hanya guru yang aktif, sedangkan murid pasif. Komunikasi semacam ini cenderung membosankan karena murid  bukanlah patung atau benda mati. Murid juga perlu bergerak, berbicara, dan berpikir, bukkan hanya meng-copy paste sesuatu yang siampaikan oleh guru. Murid juga perlu diajak untuk bersama-sama aktif dalam kegiatan belajar-mengajar agar punya semangat untuk mengikuti proses pembelajaran.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa guru yang berkomunikasi tidak efektif dengan muridnya cenderung mengalami kegagalan dalam meningkatkan prestasi belajar muridnya. Oleh karena itu, guru harus cakap membangun komunikasi yang efektif.

"Berpakaian Tidak Rapi"

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

9. Sering Bolos

 


  Setelah sebelumnya mengenai Tidak Disiplin. Selanjutnya, kali ini kita akan belajar 

 Selanjutnya yaitu Sering Bolos di poin sembilan ini.

Terkadang kita menjumpai di negeri tercinta in anak-anak sekolah yang berseragam sekolah saat jam belajar berlangsung asik nongkrong di pinggir jalan, jalan-jalan di mall, dan lain-lain. Mereka bolos bukan saja karena malas belajar, melainkan juga terkadang guru mereka bolos mengajar. Menjadi sesuatu yang lazim ketika guru bolos mengajar, murid pun bolos belajar. Padahal, guru sering kali memberi ancaman kepada murid yang sering bolos, sepert ancaman nilai rapot rendah, tidak naik kelas, akan dihukum di depan teman-tema sekelasnya, dan lain-lain.

Namun ketika guru yang bolos, tidak ada sanksi sama sekali terhadap guru. ini merupakan contoh ketidakadilan paling nyata dalam proses kaderisasi anak bangsa dala pendidikan. Seharusnya. guru yang bolos juga mendapat sanksi, mereka pun tidak langsung, dari murid karena itu dinilai kurang pantas, melainkan dari atasan para guru.

Dalam catatan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) yang diumumkan pada tahun 2010 guru yang bolos setiap hari mencapai angka 0,5 juta. Guru yang bolos ini menyeluruh di berbagai provinsi, baik kota maupun desa. Angka guru bolos yang super mengejutkan di negara kita sebanding dengan semua guru yang mengajar di Malaysia dan Thailand. Sungguh sangat memprihatinkan! Bagaimana mungkin bangsa ini semakin maju menyaingi negara tertinggal yang sudah maju berapa langkah meninggalkan bangsa kita jika para guru bolos?

Sebenarnya yang rugi tidak hanya murid, tetapi juga orang tua murid. Coba perhatikan, anak-anak yang mau berangkat ke sekolah sudah dapat dipastikan minta jatah uang jajan dan uang transportasi, bagi murid yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah, kepada orang tuanya. Orang tua murid rela merogoh kocek demi memenuhi keperluan uang jajan dan transportasi sang anak yang akan berangkat sekolah, dengan harapan sampai di sekolah, ia akan mendapatkan ilmu. Namun, sesampainya di sekolah, ternyata sang guru tidak datang atau bolos sedangakan uang jajan dan transportasi sudah ludes. 

Adapun yang paling menyedihkan adalah guru yang sering kali bolos telah memberikan teladan yang tidak baik kepada muridnya. Secara tidak langsung, muridnya diberi pelajarna untuk melalaikan tanggung jawab atau profesi yang harus dijalaninya. Ini dapat diketahu dari beberapa alasan murid yang sering kali bolos, yang salah satu alasannya adalah sang guru juga sering kali bolos, selain tidak adanya kontrol dari orang tua.

Simpulan

Guru yang membolos dari mengajar muridnya telah memberikan contoh buruk karena talah melalaikan tugas utamanya sebagai guru adalah mengajar murid-murid tentang ilmu di sekolah. Tindakan bolos ini sangat merugikan banyak hal dan harus dihentikan.

 

Nantikan artikel berikutnya tentang Komunikasi Tidak Efektif

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

8 Tindakan Disiplin (bagian 2)


  

Konsep Disiplin

 

Dalam bukunya Tulus Tu'u berjudul Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa dalam penerapannya disiplin  memiliki beberapa konsep, yaitu konsep disiplin yang otoriter, dispilin permisif, dan disiplin demokratis.

1. Disiplin Otoriter

Disiplin ototriter adalha konspe disiplin yang memaksakan orang-orang yang berada di lingkungan otoriter untuk mengikuti sesuatu yang sudah ditetapkan atau yang menjadi aturan. Tindakan yang melanggar aturan atau mempertanyakan aturan akan mendapakan sanksi dari pihak yang punya wewenang di lingkungan disiplin otoriter tersebut.

Orang-orang yang hidip di lingkungan itu tidak boleh bertanya, apalagi membantah sesuatu yang sudah menjadi aturan, entah aturan ini menghadirkan manfaat bagi diri sendiri ataupun tidak.

2. Disiplin Permisif

Disiplin permisif adalah membiarkan orang-orang yang berada di lingkungan tersebut bertindak bebas dan sesuka hati tanpa ada aturan yang mengikat. Nilai-nilai dan norma-norma yang diciptakan sendiri sehingga keputusan yang diambil berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma yang diciptakan sendiri. Akibatnya, bisa terjadi benturan nilai antara orang yang satu denganyang lain. Dalam hali ini, Norma-norma universal cenderung dilanggar di tengah lingkungan yang permisif.

3. Disiplin Demokratis

Disiplin demokratis adalah sebuah usaha mendisiplinkan diri berdasarkan kesadaran diri atau tanpa ada paksaan dari pihak luar, sebagaimana disiplin otoriter. Disiplin demokarsi cenderung memihak pada kepentingan bersama atau tidak mendahulukan kepentingan pribadi atau atas kepentingan orang lain sehingga tidak membuat norma atau nolai-nilai sendiri sebagaimana disiplin permisif.

Nilai-nilai dan norma-norma dalam disiplin demokratis diciptakan demi kepentingan bersama, sedangkan keputusan yang diambil berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma universal kemanusiaan. orang-orang yang berada di lingkungan disiplin demokratis menjalankan sesuatu sesuai dengan kesadaran yang timbil dalam dirinya sendiri, serta sesuai denga norma-norma dan nilai-nilai kemanusiaaan universal.



Simpulan

Konsep disiplin terbagi menjadi disiplin otoriter, disiplin permisif, dan disiplin demokratis

 

Nantikan artikel berikutnya tentang Sering Bolos

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press