UTILITARISME

 

 

Sumber Gambar : shutterstock

Apa itu "Utilitarisme"?

"Utilitarisme" berasal dari kata Latin utilis yang artinya "bermanfaat". 

Menurut Teori ini suatu perbuatan adalah baik jika memberi manfaat, tetapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Jadi, utilitarisme ini tidak boleh dimengerti dengan cara egoistis. Menurut suatu perumusan terkenal, dalam rangka pemikiran utilitarisme (utilitarianism) kriteria unutk menetapkan baik buruknya suatu perbuatan adalah

The greatest happiness of the greatest number, 

 dalam artian kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar.

Perbuatan yang sempat mengakibatkan paling banyak orang merasa senang dan puas adalah perbuatan yang terbaik. 

Mudah dipahami bahwa utilitarisme sebagai teori etika cocok sekali dengan pemikiran ekonomis. Misalnya, teori ini cukup dekat dengan cost benefit analysis yang banyak dipakai dalam konteks ekonomi. Manfaat yang dimaksud utilitarisme bisa dihitung juga sama seperti kita menghitung untung dan rugi atau kredit dan debet dalam konteks bisnis. Dan memang pernah ada penganut utilitarisme yang mengusahakan perhitungan macam itu di bidang etika.

Kritik

Dalam perdebatan antara para etikawan, teori utilitarisme menemui banyak kritik. Keberatan utama yang dikemukakan adalah bahwa utilitarisme tidak berhasil  menampung dalam teorinya dua paham etis yang amat penting, yaitu keadilan dan hak. Akan tetapi, bagaimana kalau perbuatan itu serentak juga tidak adil bagi suatu kelompk tertentu atau melanggar hak beberapa orang atau barangkali  malah hanya satu orang?  Jika mereka mau konsisten, pada penduduk utilitarisme mesti mengatakan bahwa dalam hal itu perbuatannya harus dinilai baik. Jadi, kalau mau konsisten, mereka harus mengorbankan keadilan dan hak kepada manfaat. Namun kesimpulan itu sulit diterima oleh kebanyakan etikawan. 

Beberapa utilitaris telah mengusulkan untuk membedakan dua macam utilitarisme

Utilitarisme perbuatan (act utilitarianism)

Utilitarisme aturan (rrule utilitarianism

Misalnya, kita bisa menerapkan prinsip ini atas aturan moral "janji harus ditepati". Kalau kita membandingkan aturan "janji harus ditepati" dengan aturan "janji tidak perlu ditepati", maka kita semua akan menuetujui bahwa aturan pertama tahan terhadap prinsip utilitaristis, sedangkan aturan kedua tidak. "janji harus ditepati" sebagai aturan moral harus dianggap sah. karena membawa manfaat paling besar bagi seluruh masyarakat, walaupun selalu mungkin ada orang yang menyesal karena janji yang pernah diadakan. Sedangkan "Janji tidak perlu ditepati" sebagai aturan moral tidak tahan uji, karena  kehidupan masyarakat yang berpegang pada aturan moral seperti itu pasti akan kacau-balau. Bisnis dan kegiatan sosial lainnya akan mengalami kemacetan total dalam masyarakat yang berpegang pada aturan "janji tidak perlu ditepati". Karena itu aturan kedua ini tidak bisa diterima sebagai aturan moral yang sah.

Kita dapat menyimpulkan bahwa utilitarisme aturan membatasi diri pada justifikasi aturan-aturan moral. Dengan demikian mereka memang dapat menghindari beberapa kesulitan dari utilitarisme perbuatan. Karena itu utilitarisme aturan ini merupakan suatu upaya teoritis yang menarik.




Sumber :

Buku : Pengantar Etika Bisnis

Penulis : K. Bertens

Penerbit : Penerbit Kanisius

TAHUN 2000

Halaman 66-68

NAMA LAIN ETIKA BISNIS

 

Sumber Gambar : Shutterstock

 

Di Indonesia studi tentang masalah etis dalam bidang ekonomi dan bisnis sudah biasa ditunjukkan dengan nama "etika bisnis", sejalan dengan kebiasaan umum dalam kawasan berbahas Ingggris (business ethics).

Tetapi dalam bahas lain terdapat banyak variasi. 

Dalam bahasa Belanda pada umumnya dipakai nama bedrijfsethiek (etika korporasi). Variasi lain adalah "etika ekonomis" atau "etika ekonomi" (jarang dalam bahas Inggris economic ethics, lebih banyak dalam bahasa Jerman Wirtschaftsethik). Ditemukan juga nama management ethics atau managerial ethics (etika manajemen). 

Kemungkina lain lagi adalah organization ethics (etika organisasi). 

Sebagai nama yang berbeda-beda ini berkaitan dengan preferensi untuk perspektif makro, meso, atau mikro yang berbeda di pelbagai negara. 

Namun demikian, pada dasarnya semua nama ini menunjuk kepada studi tentang aspek-aspek moral dari kegiatan ekonomi dan bisnis,

 

 

 

Sumber :

Buku : Pengantar Etika Bisnsi

Penulis : K. Bertens

Penerbit : Penerbit Kanisius

TAHUN 2000

Halaman  35-36

 

APA ITU ETIKA BISNIS? (ETIKA SEBAGAI REFLEKSI)

 

Sumber Gambar : Shutterstock

Marik kita mengenal etika bisnis sebagai refleksi

 

Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. 

Dalam etika sebagai refleksi kita berpikir tentang apa yang dilakukan dan hususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Etiak sebagai refleksi berbicara tentang etika sebagai praksis atau mengambil praksis etis sebagai objeknya. Etika sebagai refleksi menyoroti dan menilai baik buruknya perilaku orang. Etika dalam hal ini dapat dijalankan pada taraf populer atau ilmiah. 

Dalam surat kabar atau majalah berita hampir setiap hari dapat kita baca komentar tentang peristiwa-peristiwa yang berkonotasi etis: perampokan, pembunuhan, kasus korupsi, dan banyak lagi. Dan setiap hari ada banyak sekali orang yang membicarakan peristiwa-peristiwa itu. Meraka semua melibatkan diri dalam etika sebagai refleksi pada taraf populer. Tetapi etika sebagai refleksi bisa mencapai taraf ilmiah juga. Hal itu terjadi, bila refleksi dijalankan dengan kritis, metodis, dan sistematis, karena tiga ciri ini lah membuat pemikiran mencapai taraf ilmiah.

Pemikiran ilmiah selalu  

bersifat kritis, artinya tahu membedakan antara yang tahan uji dan uang tidak tahan uji, antara yang mempunyai dasar kukuh dan yang mempunyai dasar lemah. 

Bersifat Metodis, artinya tidak semrawut tetapi berjalan secara teratur dengan mengikuti sati demi satu segala tahap yang telah direncanakan sebelumnya.

Bersifat Sistematis, artinya tidak membatasi diri pada salah satu sisi saja tetapi meyoroti suatu bidang sebagai keseluruhan, secara komprehensif.


 

 

 

 


Sumber :

Buku : Pengantar Etika Bisnsi

Penulis : K. Bertens

Penerbit : Penerbit Kanisius

TAHUN 2000

 

APA ITU ETIKA BISNIS?

 Mari kita menengenal apa itu etika bisnis

Kata "etika' dan "etis" tidak selalu dipakai dalam arti yang sama dan karena itu pula "etika bisnis" bisa berbeda artinya. Suatu uraian sistematis tentan getika bisnis sebaiknya dimulai dengan menyelidiki dan menjernihkan cara kata seperti "etika" dan "etis" dipakai. Perlu diakuai, ada beberapa kemungkinan yang tidak seratus persen sama ( walapun perbedaannya tidak seberapa) untuk menjalankan penyelidikan ini. Cara yang kami pilih untuk menganalisa arti-arti "etika" adalah membedakan antara "etika sebagai praksis" dan "etika sebagai refleksi".

 


 Sumber gambar : shutterstock

Etika sebagai Praksis berarti : Nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun seharusnya  dipraktekkan. Dapat dikatakan juga, etika sebagai praksis adalah apa yang dilakuan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral. Kita sering mendengar atau membaca kalimat-kalimat seperti ini: "Dalam dunia modern, etika bisnis mulai menipis," , " Ada unsur tidak etis dalam akuisisi internal", " Semakin terasa urgensi membangun etika bisnsi","Tegakkan etika bisnis dengan terasa ergensi membangun etika bisnis","Tegakkan etika bisnis dengan Undang-Undang Anti Korupsi", dan sebagainya. Semua kalimat ini diambil dari surat kabar dan k=hampir setiap hari kita bisa membaca kalimat-kalimat sejenis. Perlu kita perhatikan maksud kata "etika" atau"etis" dalam contoh ini. Orang yang mengeluh bahwa etika bisnsi mulai menipis, bermaksud bahwa pebisnis sering menympang dari nilai dan norma moral yang benar, jadi ia menuju kepada etika sebagai praktisi.

Orang yang berbicara tentang akuisisi internal, menyatakan keraguannya tentang kualitas etis dari tindakan bisnis  itu. kendati dirumuskan dengan akan hati-hati, ia menduga bahwa akuisis internal tidak sesuai dengan nilai dan norma moral yang semestinya berlaku dalam dunia bisnis. Orang yang memikirkan masalah korupsi, berpendapat bahwa dengan membuat undang-undang anti korupsi dan menerapkan undang-undang itu secara ketat dan konsekuen, nilai dan orma moral dalam bisnsi bisa ditegakkan . Etiak sebagai praksis sama artinya dengan moral atau moraltitas: apa yang harus dilakukan, tidak boleh dilakukan pantas dilakukan, dan sebagainya.




Sumber :

Buku : Pengantar Etika Bisnsi

Penulis : K. Bertens

Penerbit : Penerbit kanisius

STUDI KASUS DAN PENELITIAN TINDAKAN

 

Sumber Gambar : shutterstock

Studi kasus dan penelitian tindakan kadang-kadang digunakan untuk mempelajari jenis persoalan tertentu. 

STUDI KASUS

Studi kasus meliputi analisis mendalam dan kontektual terhadap situasi yang mirip dalam organisasi lain, di mana sifat dan definisi masalah yang terjadi adalah serupa dengan yang dialamai dalam situasi saat ini. Seperti dalam studi hipotetis-deduktif hipotesis juga dapat disusun dalam studi kasus. Tetapi, jika suatu hipotesis khusus tidak terbukti bahkan dalam satu studi kasus lain, tidak ada dukungan yang dapat diberikan pada hipotesis alternatif yang diajarkan.

Studi kasus, sebagai teknik pemecahan masalah, tidak sering dilakukan dalam organisasi, terkait ukuran dan dalam jenis konteks tertentu adalah sulit untuk dilakukan. Selain itu, studi kasus yang otentik adalah sukar ditemukan karena banyak perusahaan memiliki untuk melindunginya sebagai data rahasia. Tetapi, dengan memeriksa dokumen studi kasus secara teliti, manajer berada dalam posisi untuk memperoleh beberapa petunjuk mengenai faktor-faktor yang mungkin berlaku dalam stuasi saat ini dan bagaimana persoalan dapat dipecahkan. Memilik kasus yang tepat untuk dipelajari, memahami, dan dengan benar menerjemahkan dinamika situasi tertentu adalah peting demi kesuksesan pemecaan masalah. Perlu pula dicatat bahwa studi kasus biasanya menyediakan data kualitas buka kuantitatif untuk analisis dan interpretasi. Tetapi, penerapan analisis studi kasus pada persoalan organisasi tertentu relatif mudah. Misalnya, sebuah studi tentang apa saja yang menentukan instalasi sistem SIM yang baik dalam organisasi adalah serupa dengan studi mengenai perencanaan untuk instalasi SIM, dan penerapan praktis dari pengetahuan tersebut akan sangat fungsional.

PENELITIAN TINDAKAN

Penelitian tindakan kadang-kadangan dilakukan oleh konsultan yang ingin memprakarsai proses perubahan dalam organisasi. Dengan kata lain, metodologi penelitian tindakan adalah paling tepat ketika berkenaan dengan perubahan yang direncanakan. Di sini, penelitian memulai dengan sebuah masalah yang telah diidentifikasi dan mengumpulkan data yang relevan untuk menyediakan solusi masalah sementara. Solusi tersebut kemudian dilaksanakan, dengan kesadaran bahwa mungkin ada konsekuensi yang tidak diinginkan yang mengikuti pelaksanaan tersebut. Penaruhnya kemudian dievaluasi, didefinisikan, didiagonisa, dan penelitian pun berlanjut hingga masalah telah sepenuhnya diselesaikan.

Dengan demikian, penelitian tidak merupakan proyek yang berkembang secara terus-menerus dengan saling memengaruhi antara masalah, solusi, pengaruh atau konsekuensi, dan solusi baru. Definisi masalah yang bijaksana dan realistis serta cara-cara kreatif untuk mengumpulkan data adalah penting dalam penelitian tindakan. 


 

Sumber

Buku : Research Methods for Business Metodologi Penelitian untuk Bisnis 

Buku 1 Edisi 4

Penulis : Uma Sekaran

Penerbit : Penerbit Salemba Empat

Tahun : 2014

 

25 TIDAK MENGIKUTI PERKEMBANGAN ZAMAN

 


Setelah kita mempelajari poin ke dua puluh empat yaitu Mengajar Di Luar Bidang

Selanjutnya kita mempelajari Kesalahan guru atas Tidak Mengikuti Perkembangan Zaman

Terkadang terdapat persoalan ketika guru hanya mewajibkan muridnya belajar, sedangkan dirinya sendiri tidak pernah diwajibkan untuk belajar, sebagaimana yang diperintahkan kepada mrudinya. Apalagi, jika memang dirinya tidak pernah belajar.

Guru yang tidak mempelajari hal baru /tidak  belajar dapat dikatakan sebagai guru yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Akibatnya, paradigma terhadap kegiatan belajar-mangajar tidak mengalami perubahan. Sebab yang digunakan ialah paradigma zaman dahulu, sebagaimana yang telah dikritik oleh Paulo Freire, yang menggunakan pendidikan gaya bank, yakni murid dipaksa "menelan" apa pun yang diajarkan oleh gurunya karena murid dianggap seperti kertas putih atau gelas kosong yang perlu diisi.

Jika guru mengikuti perkembangan zaman, ia akan mengetahui bahwa paradigma pendidikan saat ini sudah berubah, yaitu lebih mumanis dan fleksibel. Murid pun bisa berperan aktif, sebagaimana guru yang aktif saat kegiatan belajar-mengajar.

Sehubungan dengan itu, spesialisasi dan kempetensi dalam kegiatan belajar-mengajar harus ikut berkembang. GUru juga harus mampu menciptakan inovasi-inovasi dalam pembepajaran yang ditanganinya sehingga menigkatkan prestasi belajar murid.

Ada beberapa alasan yang membuat menyebabkan guru tidak belajar atau berhenti belajar. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Rutinitas yang Mengikat

Rutinitas "mengikat" karena ada aturan dari sekolah, misalnya harus datang pagi dan pulang siang, kadang dijadikan sebagai alasan oleh guru untuk tidak belajar. Rutinitas itu telah menjadikan guru terjebak dalam suasana malas belajar, apalagi seorang guru masih dibuat repot dengan rutinitas dalam rumah tangganya. Alasan untuk tidak belajar pun semakin kuat. Atmosfere kehidupan guru yang demikian seolah-olah hanya sibuk menjalankan jadwal kerja di sekolah dan rumah.

Kelelahan

Kelelahan dapat dijadikan sebagi alasan oleh guru untuk tidak belajar. Misalnya, kelelahan karena mengajar murid yang bandel dan sulit diatur sehingga menguras tenaga guru. Karena kelelahan, sesampai di rumah, ia langsung istirahat atau tidur. Setiap hari selalu seperti itu, sehingga ia tidak pernah membuka buku baru untuk mengembangkan dirinya dalam kegiatan belajar-mengajar.

Banyak Tugas

 Tugas yang menumpuk dapat dijadikan sebagai alasan oleh guru untuk tidak belajar, seperti tugas membuat rencana pembelajarn, mengisi rapor, menilai soal-soal ulangan, megisi administrasi sekolah, membuat proposal kenaikan gaji, dan lain-lain. Kehidupan guru yang demikian seolah-oleh hanya untuk menerjakan tugas dan tidak belajar.

 

Sebenarnya, ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh guru agar dirinya bisa terus belajar sehingga tidak ketinggalan zaman. Di antaranya adalalh sebagai berikut :

  • Belajar dari Pengalaman saat Mengajar

Pengalaman ketika mengajar dapat dijadikan sebagai bahan untuk belajar. Misalnya, saat mengajar, ada murid yang melanggar perintahnya, meskipun sudah dihukum. Nah, terhadap kasus seperti ini, guru bisa belajar mengenai cara menghadapai murid yang keras kepala. 

Dalam hal ini, guru dapat menanganinya dengan metode lama atau baru yang lebih santun dan mudah diterima murid sehingga murid memperbaiki sikapnya. Dengan demikian, pengalaman dapat dijadikan sebagai bahan untuk belajar sehingga memuat guru tidak ketinggalan zaman.

  • Belajar dengan Sesama Guru
 Sesama guru, saat bertemu di mana pun, dapat berbagi pengalaman. Atau, guru yang butuh pengetahuan baru sebaiknya tidak segan-segan bertanya kepada sesama guru, baik kepada guru yang lebih tua maupun guru yang lebih muda. Jadi, pertemuan sesama guru bisa dijadikan sebagai sarana untuk saling belajar.
  • Belajar Kepada Orang yang Lebih Ahli

 Untuk belajar mengenai suatu yang tidak dapat dipahami sendiri, guru dapat bertanya kepada seseorang yang ahli di bidannya. Maka, guru juga pernah putus asa untuk tidak mengetahui sesuatu yang baru. Hal ini dapat diatasi dengan cara menjalin tali silaturahmi dan menimba ilmu kepada orang yang lebih ahli.

 

 

 

Sumber : Rahman, Mansyur Arif. 2011. Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. DIVA Press 

 

 

OBJEK STUDI KEWIRAUSAHAAN

Sumber Gambar :shutterstcok


Apasih yang menjadi objek dalam studi kewirausahaan?


Kita mengenal kewirausahaan merupakan nilai, kemampuan, dan perilaku seseorang dalam berkreasi dan berinovasi. Oleh karena itu, objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan seseorang yang mewujudkan dalam bentuk perilaku. 

Menurut Soeparman Soemahamidjaja (1997), kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi :

  1. Kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha. Dalam merumuskan tujuan hidup/usaha diperlukan perenungan, koreksi, yang berulang-ulang, dibaca dan diamati sampai memahami kemaannya.
  2. Kemampuan memotivasi diri untukmelahirkan suatu tekad kemauan yang meyala-nyala.
  3. Kemampuan untuk berinisiatif, yaitu mengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan berinisiatif.
  4. Kemampuan berinovasi, yang melahirkan kreativitas (daya  cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang akan melahirkan motivasi. Kebiasaan inovatif adalahdesakan dalam diri untuk selalu mencari berbagai kemungkinan baru atau kombinasi baru yang dapat dijadikan peranti dalam menyajikan barang dan jasa bagi kemamkmuran masyarakat.
  5. Kemampuan untuk membentuk modal uang atau barang modal (capital goods) 
  6. Kemampuan untuk mengatur waktu dan membiasakan diri untuk selalu tepat waktu dalam segala tindakan melalui kebiasaan yang selalu tidak menunda pekerjaan.
  7. Kemampuan mental yang dilandasi dengan agama
  8. Kemampuan untuk membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik atau pun menyakitkan.

 

Sumber :

E-book : Metode Penelitian Model Praktis Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Penulis : Prof. Dr. Suryana, M.Si

Penerbit : Universitas Pendidikan Indonesia

Tahun 2010

 Gambar : shutterstock.com

 

DEFINISI KEWIRAUSAHAAN

 


Sumber Gambar : shutterstock

 

Kali ini kita mempelajari tentang Kewirausahaan. Sebelum jauh sebaiknya mengetahui dari definisi kewirausahaan terlebih dahulu

DEFINISI KEWIRAUSAHAAN

Dari segi etimologi , kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira  berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudaya luhur, bekerja, berbuat sesuatu. Adapun usaha berarti perbuatan amal bekerja, berbuat sesuatu. Dengan demikian, kalimat wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wirausaha adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya.

Definisi kewirausahaan yang lain diantaranya sebagai berikut :

  1. Kewirausahaan adalah nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat, proses, dan hasil (Ahmad Sanusi, 1994)
  2. Kewirausahaan  adalah nilai yang dibutuhkan untu memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Parawiro, 1997)
  3. Kewirausahaan adalah prose dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovasi) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih. 
  4. Kewirausahaan adalah kemampuan untuk mencuptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker, 1959)
  5. Kewirausahaan adalah proses penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemuan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha (Zimmerer, 1996)
  6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.
  7. Kewirausahaan adalah semangant, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada usaha mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan/atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
  8. Kewirausahaan yang sering dikenal dengan entrepreneurship yang diterjemahakn secara harfiah sebagai perantara, diartikan sebagai sikap dan perilaku mandiri yang mampu memadukan unsur cipta, rasa dan karsa serta karya atau mampu menggabungkanunsur kreativitas, tantangan, kerja keras, dan kepuasan untuk mencapai prestasi maksimal.
  9. Kewirausahaan sebagai kemampuan mengambil faktor-faktor produksi lahan kerja, tenaga kerja, dan modal menggunakannya untuk memproduksi barang atau jasa baru. Wirausahawan menyadari peluan gyang tidak dilihat atau tidak dipedulikan oleh eksekutif bisnis lain. (Stoner James (1997)
  10. Kewirausahaan mencakup upaya mengawali perubahan dalam produksi, sedangkan manajemen mencakup koordinasi produksi yang sudah berjalan. (Paul H. Wilken)
  11. Kewirausahaan sebagai orang-orang yang menghadapi resiko yang berbeda dengan orang yang menyediakan modal. Cantillon lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidak pastian (Richard Cantillon (1725). 
  12. Blaudeu (1797) mengemukakan bahwa kewirausahaan adalah orang-orang yang menghadapi risiko, merencanakan, mengawasi, mengorganisasi, dan memiliki.
  13. Albert Shapero (1975) mendefinisikan kewirausahaan sebagai pengamilan inisiatif mengorganisasi suatu mekanisme sosial ekonomi dan menghadapi risiko kegagalan.
  14. Joshep Scumpeter (1934) mengemukakan bahwa kewirausahaan adalah melakukan hal-hal baru atau melakukan hal-hal yang sudah dilakukan dengan cara baru, termasuk penciptaan produk baru dengan kualitas baru, metode produksi, pasar, sumber pasokan, dan organisasi. Schumpeter mengaitkan wirausaha dengan konsep yang diterapakan dalam konteks bisnis dan mencoba menghubungkan dengan kombnasi berbagai sumber daya.
  15. Hisrich, Peters, dan Sheperd (2008) mendefinisikan sebagai proses penciptaan sesuatu yang baru pada nilai menggunakan waktu dan usaha yang diperlukan menanggung resiko keuangan, fisik, serta resiko sosial yang mengiringi, menerima imbalan moneter yang dhasilakn, serta kepuasna dan kebebeasan pribadi.
  16. Wennekers dan Thurik (1999) melengkapi definisi kewirausahaan dengan menyintesiskan peran gungsional wirausahawan sebagai: "...kemampuan dan kemauan yanta seorang individu, yang berasal dari diri mereka, baik tim di dalam maupun di luar organisasi yang ada unutk menemukan dan menciptakan peluang ekonomi baru, yang meliputi produk, metode produksi, skema organisasi, dan kombinasi barang-pasar, serta untuk memperkenalkan ide-ide mereka di pasar." 
  17. Impres No.4 tahun 1995 yang mendefiniskan kewirausahaan sebagai semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menagani usaha dan/atau kegiatan yang mengarah pada usaha mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan edisiensi dalam rangka memerikan pelayanan yang lebih baik dan/atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

 

 

Sumber :

 E-book : Kewirausahaan Teori dan Praktik

Penerbit : Pustaka Setia

Penulis : Dr. H. A. Rusdiana, Drs., M.M.

Tahun : 2014

MACAM-MACAM METODE PENELITIAN (Prof. Dr. Suryana, M.Si)

 

Sumber Gambar : shutterstock

Dalam penelitian kita memerlukan yang namanya metode penelitian, ada empat macam petode penelitian:

A. Metode Ekperimen (Mengujicobakan),

Metode ekperimen adalah penelitian untuk menguji apakah variabel-variable eksperimen efektif atau tidak. Untuk menguji efektif tidaknya harus digunakan variabelkontrol..

Penelitian eksperimen adalah untuk menguji hipotesis yang dirumuskan secara ketat. Penelitian eksperimen biasanya dilakukan untuk bidang yan gbersifat eksak. Sedangkan untuk bidang sosial biasanya digunakan metode survey ekspllanatoyr, metode deskriptif, dan historis.


B. Metode Verifikasi ( Pengujian)

Metode verifikasi yaitu  untuk menguji seberapa jauh tujuan yang sudah digarsian itu tercapai atau sesuai atau cocok dengan harapan atau teori yang sudah baku. Tujuan dari penelitian verigikasi adalah untuk menguji teori-teori yang sudah ada guna menyusun teori baru dan menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru. Lebih mutaakhirnya, metode verifikasi berkembang menjadi grounded research, yaitu metode yang menyajikan suatu pendekatan baru, dengan data sebagai sumber teori (teori berdasarkan data).

 

C. Metode Deskriptif (mendeskripsikan),

Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk mencari unsur- unsur, ciri-ciri, sifat-sifat suatu fenomena. Metode ini dimulai dengan mengumpulkan data, menganalisis data dan menginterprestasikannya. Metode deskriptif dalam pelaksanaannya dilakukan melalui : teknik survey, studi kasus (bedakan dengan suatu kasus), studi komparatif, studi tentang waktu dan gerak, analisis tingkah laku, dan analisis dokumenter.


D. Metode Historis (merekonstruksi),

Metode historis yaitu suatu metode penelitian untuk meneliti sesuatu yang terjadi di masa lampau. Dalam penerapannya, metoder ini dapat dilakukan dengan suatu bentuk studi yang bersifat komparatif-historis, yiridis, dan bibliografik. Penelitian historis bertujuan untuk menemukan generalisasi dan membuat rekonstruksi  masa lampau, dengan cara menyimpulkan mengevaluasi, memverifikasi serta mensitesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta-fakta dan bukti-bukti guna memperoleh kesempatan yang kuat


Sumber :

E-book : Metode Penelitian Model Praktis Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Penulis : Prof. Dr. Suryana, M.Si

Penerbit : Universitas Pendidikan Indonesia

Tahun 2010

 Gambar : shutterstock.com

PENELITIAN BERDASARKAN TUJUANNYA (RUSIDI, 1991)

 


Step less are arranged neatly in a row so that they form like skyscrapers

Setelah kita mempelajari jenis penelitian berdasarkan menurut sifat masalahnya (Dirjen Dikti, 1981)

A. Penelitian Penjajagan (Explorative) 

Penelitian penjajagan ini bertujuan yang masih terbuka dan masih mencari unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat. Penelitian ini biasanya belum mempunyai hipotesis dan kerangka pemikiran. Untuk menunangkan pemikiran penelitian dari peneliti, biasanya digunakan pendekatan masalah dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian, bukan kerangka pemikiran.

B. Penelitian Penjelasan (Explanatory) atau (Condirmatory) 

Penelitian ini yang menyoroti hubungan antara variabel dengan menggunakan kerangka pemikiran terlebih dahulu, kemudian dirumuskan dalam bentuk hipotesis.

C. Penelitian Deskriptif (Developmental ) 

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan sarana fisik tertentu atau frekuansi terjjadinya suatu aspek fenomena sosial kejadian tertentu, dan untuk mendeskripsikan fenomena tertentu secara terperinci (Mastri Singarimbun, 1982). Penelitian ini biasanya tanpa menggunakan hipotesis yang dirumuskan secara ketat, tetapi adakalanya ada yang menggunakan hipotesis tetapi bukan untuk diuji secara statistik.

 

MENURUT PENDEKATANNYA (MASRI SINGARMBUN - 1982):

A. Penelitian Eksperimen

B. Penelitian Evaluasi

C. Penelitian Grounded Research

D. Analisis data Sekunder


 

Sumber :

E-book : Metode Penelitian Model Praktis Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Penulis : Prof. Dr. Suryana, M.Si

Penerbit : Universitas Pendidikan Indonesia

Tahun 2010

 Gambar : shutterstock.com

MACAM-MACAM BENTUK PENELITIAN (BAGIAN 2)

 


sumber gambar : shutterstock.com

Baca artikel Bagian Pertama, 

Kemudian setelah membaca bagian pertama silakan lanjut di artikel berikut ini.

Melanjutkan macam-macam bentuk penelitian selanjutnya yang telah ditulis pada artikel sebelumnya, selanjutnya adalah point ke enam

F. Penelitian Korelasional,

Penelitian korelasional bertujuan untuk meneliti sejauhmana variasi0variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi faktor lain berdasarkan koefisiensi korelasi.

Contoh:

Studi tentang Hubungan antara Pola Belajar dengan Prestasi Belajar

Studi tentang Hubungan peningkatan insentif upah dengan Peningkatan Prestasi Kerja

G. Penelitian Kausal Komparatif,

Penelitian kausal komparatif ini bertujuan untuk mengelidiki kemungkinan sebab akibat terjadinya suatu fenomena.

Contoh:

Studi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisiensi perusahaan.

Studi tentang Faktor-Faktor Murid Mensontek

H. Penelitian Tindakan (action research)

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara-cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan cara penerapan langsung didunia kerja atau dunia aktual yang lain.

Contoh :

Penelitian tentang Program "Inservice-Training" untuk Melatih Para Penyuluh Pertanian Lapangan

Penelitian Tindakan Kelas oleh Guru-Guru di SMA


BERDASARKAN TUJUANNYA

dilanjutkan di artikel selanjutnya 


E-book : Metode Penelitian Model Praktis Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Penulis : Prof. Dr. Suryana, M.Si

Penerbit : Universitas Pendidikan Indonesia

Tahun 2010